Friday, December 03, 2010

Fakta : Tidak ada satu pun orang dimuka bumi ini yang bisa menghafal Al-Kitab, lengkap dengan tanda bacanya


Alkisah, pernah terjadi ketika dalam suatu acara debat Islam dan Kristen di salah satu gedung di Jakarta, waktu memasuki acara tanya jawab, seorang ahwat yang merupakan seorang mualaf, mengajukan satu pertanyaan kepada sang Pendeta yang bertitel Doctor Teologi. Dialognya sebagai berikut:

Mualaf : Pak Pendeta, di dunia ini ada banyak orang yang hapal Al-Qur’an diluar kepala. Apakah ada orang yang hapal Al-Kitab diluar kepala?
Pendeta : Di dunia ini tidak mungkin ada yang hapal Al-Kitab di luar kepala. Sejenius apa pun orang itu, tidak mungkin dia bisa hapal Al-Kitab di luar kepala, sebab Al-Kitab itu adalah buku yang sangat tebal, jadi sulit untuk dihapal. Berbeda dengan Al Qur’an. Al-Qur’an adalah buku yang sangat tipis, makanya mudah dihapal.

Jawaban pendeta tersebut terlalu singkat dan tidak rasional, serta sangat merendahkan bahkan melecehkan AI-Qur’an. Dengan jawaban pak Pendeta hanya seperti itu, karena penasaran, sang mualaf maju ke depan, merebut mikropone yang ada ditangan seorang ahwat, dan melanjutkan pertanyaan tadi.
Mualaf : Maaf pak Pendeta, tadi bapak katakan bahwa Al-Qur’an adalah buku yang sangat tipis, makanya gampang dihapal diluar kepala. Tapi pak Pendeta, bahwa setipis-tipisnya Al Qur’an, ada sekitar 500 s/d 600 halaman, jadi cukup banyak juga lho! Tapi kenyataannya di dunia ini ada jutaan orang yang hapal Al-Qur’an diluar kepala. Bahkan anak kecil sekalipun banyak yang hapal diluar kepala, walaupun artinya belum dipahami. Sekarang saya bertanya kepada pak Pendeta, Al-Kitab itu terdiri dari 66 kitab bukan? Jika pak Pendeta hapal satu surat saja diluar kepala (1/66 saja), semua yang hadir disini jadi saksi, saya akan kembali masuk agama Kristen lagi! Ayo silahkan pak Pendeta!

Mendengar tantangan sang mualaf seperti itu, situasi jadi tegang, mungkin audiens yang muslim khawatir, jangan-jangan ada salah satu Pendeta yang benar-benar hapal salah satu surat saja di dalam Al-Kitab tersebut. Seandainya ada yang hapal, berarti sang mualaf tersebut harus tepati janjinya yaitu harus masuk Kristen kembali. Karena para Pendetanya diam saja, maka pertanyaan dilemparkan kepada jemat atau audiens Kristen yang diposisi belakang.
Muallaf : Ayo kalian yang dibelakang, jika ada diantara kalian yang hapal satu surat saja dari Al-Kitab ini diluar kepala, saat ini semua jadi saksi, saya akan kembali masuk ke agama Kristen lagi, silahkan!!

Masih dalam situasi tegang, dan memang sepertinya sang mualaf tahu persis tidak akan mungkin ada yang hapal walaupun satu surat saja diluar kepala. Kemudian tantangan tersebut dirobah dan turunkan lagi. Saat itu ada beberapa Pendeta yang hadir sebagai pembicara maupun sebagai moderator. Mereka itu usianya bervariasi, ada yang sekitar 40, 50 dan 60an tahun. Pada saat yang sangat menegangkan itu, sang mualaf tadi menurunkan tantangannya ke titik yang terendah, dimana semua audiens yang hadir, baik pihak Kristen maupun Islam semakin tegang dan mungkin sport jantung.
Mualaf : Maaf pak pendeta, umur anda kan sekitar 40, 50 tahun dan 60an tahun bukan? Jika ada diantara pak pendeta yang hapal satu lembar saja bolak balik ayat al-kitab ini, asalkan pas titik komanya, saat ini semua jadi saksinya, saya kembali masuk agama Kristen lagi! Silahkan pak!

Ketegangan yang pertama belum pulih, dengan mendengar tantangan sang mualaf yang seperti itu, ditambah menjadi semakin tegang, terutama dipihak teman-teman yang beragama Islam. Mungkin mereka menganggap sang mualaf ini sudah gila, over acting, terlalu berani, masak menantang para Pendeta yang hampir rata-rata bertitel Doctor hanya hapalan satu lembar ayat Al-Kitab saja.

Suasana saat itu sangat hening, tidak ada yang angkat suara, mungkin cemas, jangan-jangan ada yang benar-benar hapal ayat Al-Kitab satu lembar saja. Karena para pendeta diam saja, akhirnya pertanyaan dilemparkan lagi kepada jemaat atau audiens yang beragama Kristen.
Mualaf : Ayo siapa diantara kalian yang hapal satu lembar saja ayat Al-Kitab injil, bolak balik asal pas titik komanya, saat ini saya kembali masuk Kristen. Ayo silahkan maju kedepan!

Ternyata tidak ada satu pun yang maju kedepan dari sekian banyak Pendeta maupun audiens yang beragama Kristen. Akhirnya salah seorang Pendeta angkat bicara sebagai berikut:
Pendeta : Pak, terus terang saja, kami dari umat Kristiani memang tidak terbiasa menghapal. Yang penting bagi kami mengamalkannya.
Mualaf : Al-Kitab ini kan bahasa Indonesia, dibaca langsung dimengerti! Masak puluhan tahun beragama Kristen dan sudah jadi Pendeta, selembar pun tidak terhapal? Kenapa?

Jawabnya adalah karena Al-Kitab ini tidak murni wahyu Allah, makanya sulit dihapal karena tidak mengandung mukjizat! Beda dengan Al-Quran. Di dunia ini ada jutaan orang hapal diluar kepala, bahkan anak kecil sekalipun banyak yang hapal diluar kepala seluruh isi Al-Qur’an yang ratusan halaman. Padahal bahasa bukan bahasa kita Indonesia. Tapi kenapa mudah dihapal? Karena Al-Qur’an ini benar-benar wahyu Allah, jadi mengandung mukjizat Allah, sehingga dimudahkan untuk dihapal sekaligus juga diamalkan sebagai petunjuk hidup.

Bukti lain bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah, seandainya dari Arab Saudi diadakan pekan Tilawatil Qur’an, kemudian seluruh dunia mengakses siaran tersebut, kita umat islam bisa mengikutinya, bahkan bisa menilai apakah bacaannya benar atau salah. Dan ketika mengikuti siaran acara tersebut, tidak perlu harus mencari kitab Al-Qur’an cetakan tahun 2005 atau 2010. Sembarang Al-Qur’an tahun berapa saja diambil, pasti sama.

Beda dengan Al-Kitab. Seandainya ada acara pekan tilawatil Injil disiarkan langsung dari Amerika, kemudian seluruh dunia mengaksesnya, kitab yang mana yang jadi rujukan untuk di ikuti dan dinilai benar tidaknya? Sama-sama bahasa Inggris saja beda versi, jadi sangat mustahil jika ada umat Kristiani bisa melakukan pekan tilawatil Injil, karena satu sama lainnya berbeda.

*terjumpe while blogwalking...subhanallah..xterjangkau dek akal...

No comments: